Asal Usul Ds. Manonggal Kec. Klampis Kab. Bangkalan
Penulis dan Editor : Muhammad
Tanggal :
September 2017
Narasumber : Bpk.
Mohammad Adnan, SH M.Pdi
Pada
suatu hari saat Potrè Konèng berada di Gunung Geger, dia melihat kearah barat
laut ada sebuah gundukan tanah yang surut diantara lautan yang luas. Konon,
Madura adalah sebuah daerah yang hampir seluruh wilayahnya adalah lautan.
Sontak Potrè Konèng pun penasaran dengan kejadian yang menjanggal tersebut. Dia
beserta para pengikutnya mencari dimana letak gundukan tanah itu dengan
menggunakan perahu.
Potrè
Konèng terus berlayar mencari daerah itu hingga perahunya bersandar di suatu
daerah yang airnya surut sampai mata kaki yang kini daerah tersebut bernama
Bisè' (yang berarti tumit atau mata kaki) yaitu sebuah daerah yang berada di
utara masjid Manonggal. Dengan air yang hanya setinggi mata kaki sontak membuat
perahu Potrè Konèng sedikit miring dan menumpahkan sebagian muatannya yang
mayoritas adalah perhiasan emas. Peristiwa ini dikukuhkan karena beberapa tahun
silam banyak masyarakat Manonggal yang sedang menggarap sawah banyak menemukan
perhiasan emas seperti anting, kalung, gelang, dsb.
Saat Potrè Konèng turun dari perahunya, dia melihat
sekitar tanah itu dan berjalan menjelajahinya. Disela sela perjalanan itu dia berkata
"dimmah juwah tana sè nungghâlin?" Yang berarti "dimana
satu gundukan tanah itu? Dinamakan nunggâlin karena pada saat itu hanya
ada satu gundukan tanah yang menjulang diantara lautan dan yang itu yang
pertama kali dilihat oleh Potrè Konèng. Nama nongghâlin/nungghâlin itu
berubah menjadi Manonggal (Manungghâl/Manonggâl) yang dalam bahasa
jawanya Manunggaling yang berarti satu. Kemudian setelah Potrè Konèng
menjelajah daerah itu dia kembali ke Gunung Geger.
Penghuni
pertama desa Manonggal yaitu Bhuju' Sajjhân yang bergelar "Sènnom"
atau Bhuju' Tandhâ Sèrap yang nama
aslinya adalah Musyarif. Musyarif mempunyai saudara laki kaki yang di kenal
dengan Bhuju' Tandhâ Anggrek (yakni Bhuju' desa Perreng atau bisa
disebut Bhuju' Perreng) Perreng adalah sebuah desa yang terletak di
Kecamatan Arosbaya. Kedua bersaudara ini tidak tau bahwa keduanya adalah
saudara.
Hingga
pada suatu hari dua orang ini bertaruh mengerami 2 buah telur. Taruhannya
adalah tunangan Bhuju' Sajjhân. Bhuju' Sajjhân memiliki telur ular
Lajing, Bhuju' Perreng memiliki telur Bhinaul (yakni sejenis
burung bangau). Keduanya sama sama mengerami telur itu dengan cara bersemedi.
Hingga pada suatu hari, pelayan dari Bhuju' Sajjhân itu menukar telur
tersebut. Saat kedua telur itu menetas, keduanya berubah menjadi ayam yang
awalnya adalah telur ular dan telur bhinaul. Namun, ada perbedaan antara
kedua ayam tersebut, ayam Bhuju' Perreng adalah ayam Biring, (yakni
sejenis ayam sabung yang warnanya hitam dan merah) sedangkan ayam Bhuju'
Sajjhân adalah ayam jantan yang berwarna putih mulus.
Pertarungan
pun terjadi antara kedua ayam itu yang disaksikan langsung oleh tunangan Bhuju'
Sajjhân. Bhuju' Sajjhân sangat yakin bahwa dialah pemenangnya dan dia
akan tetap bersama tunangannya karena, menurutnya telur miliknya berasal dari
telur ular. Namun, apa yang terjadi? ayam milik Bhuju' Sajjhân ternyata
kalah dan pemenangnya adalah Bhuju' Perreng. Secara otomatis, sang pemenang
tentu mendapatkan hadiah yakni seorang gadis yang sangat jelita yang tak lain
adalah tunangan Bhuju' Sajjhân sendiri. Kejadian ini tentu membuat hati Bhuju'
Sajjhân kecewa dan marah. Dia bersemedi mencari tahu penyebab kekalahannya.
Di saat dia tengah bersemedi tiba tiba ada suara yang mengatakan bahwa Bhuju'
Perreng telah menukar telur itu sehingga dia menjadi pemenang. Wahyu ini membuat
hati Bhuju' Sajjhan kian membara untuk segera membunuh Bhuju' Perreng.
Dengan membawa sebuah keris dia menuju ke rumah Bhuju' Perreng dia ingin
tahu apa yang sedang dilakukan oleh musuhnya tersebut.
Kemudian
dia mengintip dengan cara memanjat pohon delima putih yang berada disebelah
timur rumah Bhuju' Perreng, dia sangat terkejut sekaligus marah karena
dia melihat wanita yang dicintainya sedang bercumbu dengan lelaki lain. Dia
yang kelam langsung melompat kearah mereka yang sedang bercinta dan langsung
menancapkan keris itu pada tubuh sang musuh. Dengan kejadian ini masyarakat
Manonggal tidak diperbolehkan menanam pohon delima putih disebelah timur
rumahnya. Setelah membunuh musuhnya dia menyesal telah melakukan sebuah dosa
besar, dia kemudian lari membawa keduanya sambil menangis karena rasa
penyesalan yang sangat besar.
Disaat dia sedang menyesali perbuatannya, tiba tiba ada suara yang mengatakan bahwa yang dibunuh itu adalah saudaranya sendiri. Dia semakin terpukul karena dia telah membunuh saudaranya sendiri. Akhirnya dia mengambil kerisnya sendiri dan memukulkannya ke sebuah pohon aren di daerah Pocoghèn Kec. Arosbaya. Hingga ujung kerisnya patah dan menancap ke tubuhnya. Karena kerisnya sakti, maka dia meninggal dunia dengan kerisnya sendiri. Keris itu kini masih ada dan dipegang oleh H. Ghofur. Dinamakan Bhuju' Sajjhan karena pada saat itu ada seorang pengembara yang menempati tempat itu dan ragu dengan adanya peninggalan sebelumnya. Akhirnya, dia asajjhâh (bersemedi) di tempat itu dan akhirnya dia menemukan sebuah makam yang ditandai dengan sebuah sérap (papan) yang juga dikenal dengan sebutan Bhuju' Tandhâ Sèrap. Seorang pengembara itu kini dikenal dengan nama Bhuju' Ator.
Komentar
Posting Komentar