Lentera Kampung

            Akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, mulai dari anak muda, remaja, orang dewasa dan bahkan anak-anak pun merasakan hal ini. Semua hal yang dulunya sulit untuk dilakukan kini menjadi sangat mudah, berkomunikasi misalnya. Dulu orang-orang menyampaikan informasi kepada orang lain melalui surat, menitipkan salam, atau bahkan berteriak jika rumahnya bertetangga namun agak jauh. Kalaupun pakai surat pasti harus menunggu beberapa hari atau bahkan beberapa bulan untuk menerimanya. Dengan perkembangan teknologi ini kini sudah ada hape untuk berkomunikasi. Dulu aku pernah ke wartel bersama ibuku yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari rumah hanya untuk menelpon ayahku di Malaysia. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagiku yang saat ini sudah menikmati era digital.

            Semua serba digital mulai dari komunikasi, jual beli sampai pengajian pun sekarang digital. Kita bisa mengakses pengajian dari manapun dan kapanpun yang kita mau. Banyak sekali pengajian dari ustadz-ustadz di Youtube bisa kita jumpai, mulai dari yang terkenal, agak terkenal sampe yang amatiran pun ada di sana. Saya mulai mikir begini, ustadz itu terkenal apa ilmunya mumpuni? Ah..! liar sekali pikiranku, kemudahan ini membuatku bingung. Satunya bilang begini satunya bilang begitu satunya bilang begono terus yang bener yang mana? Jadi pusing sama pikiran sendiri hadeh…..

            Kalau sudah begini jadi teringat waktu aku kecil dulu setelah pulang madrasah orang tuaku menyuruhku pergi ke langgar hanya untuk belajar alif, ba’ ta’. Ah menjengkelkan sekali waktu itu, pas lagi asyik main sama temen eh tiba-tiba disuruh ngaji, kalau gak mau pasti dipikul pake pelepah pisang. Ya akhirnya mau tidak mau aku pergi juga mengaji meskipun dipaksa, di sana aku dan teman teman sudah ditunggu oleh guru ngajiku yang sudah tua namun tetap masih bersemangat mengajarkan ilmu kepada santri-santrinya. Usia tidak menghalanginya untuk terus berjuang menyebarkan nilai-nilai agama kepada kami semua. Setiap selesai shalat maghrib beliau selalu mengajari kami membaca Al Quran mulai dari mengenal huruf hijaiyah sampai mahir membaca Al Quran. Aku masih nututi waktu masih memakai lentera pada waktu itu, dengan pencahayaan yang seadanya dan penglihatan beliau yang mulai menurun beliau dengan telaten mengajari kami dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

            Tak ada kata subscriber, follower atau apalah yang jadi tren sekarang dalam kamus beliau. Yang ada hanya sabar dan tekun mendidik kami dengan sepenuh hati. Tak hanya itu, kami juga dikenalkan dengan Allah Sang Maha Agung melalui sifat-sifatNya yang dua puluh melaui pujian yang disenandungkan setelah adzan. Ditengah suasana desa yang sepi, pujian yang kami senandungkan setelah adzan itu memecah keheningan malam dalam sayup kegelapan. Api lentera menjadi saksi dikala itu saat kami masih belajar mengaji dan menemani kami melantunkan ayat suci. Kyai kampong memang jauh dari keramaian, namun jasanya sangat besar bagi muda mudi dan masyarakat. Kita mengenal huruf hijaiyah, belajar membaca dan bahkan sampai kita mahir membaca Al Quran berkat jasa beliau. Hanya lentera beliau yang terus menyala setiap malam menemani para generasi penerus bangsa untuk mengenal Tuhannya. Beliaulah yang mengenalkan kita dengan kalimat basmalah dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Bukan imbalan harta yang beliau inginkan dari kita semua, akan tetapi fatihah setelah shalat itulah hadiah yang paling beliau harapkan dari kita, lebih-lebih kalau guru kita sudah meninggal dunia. Mudah mudahan dengan tulisan ini bisa mengulang kembali ingatan kita kepada lentera kampong yang dulu pernah mendidik kita dengan sabar dan ikhlas.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Usul Ds. Manonggal Kec. Klampis Kab. Bangkalan