Madura yang Hilang

    Sebagai orang Madura tentunya sangat bangga dengan beragam budaya, adat, dan tradisi yang ada didalamnya, termasuk juga kekayaan alam yang sangat melimpah. Kebanggaan itu haruslah dibuktikan dengan melestarikan budaya yang ada, mengelola sumber daya alam, dan melanjutkan tradisi yang semestinya dilanjutkan. Diantara kebudayaan yang sampai saat ini tetap dilestarikan oleh masyarakat Madura yaitu kerrabhȃn sapè, kebudayaan ini sudah tersebar luas hamper seluruh Indonesia. Contoh lain dari kebudayaan Madura yang masih terjaga saampai saat ini adalah sapè sono’ yaitu semacam kontes kecantikan sapi betina yang juga menjadi primadona wisata budaya di Madura. Kedua contoh ini menjadi identitas Madura dimata orang luar yang akan menjadi pintu utama bagi orang luar yang akan mengenal Madura.

    Selain contoh kebudayaan, Madura juga mempunyai tradisi yang sampai saat ini masih dilanjutkan oleh masyarakatnya antara lain petik laut atau rokat tasè’ yang selalu dilaksanakan oleh penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Tujuannya yaitu mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh Tuhan dan menjadi ajang acara tahunan yang dihadiri oleh seluruh masyarakat di kawasan tersebut. Contoh lain dari tradisi yang masih dilanjutkan yaitu arèmo, arèmo adalah perayaan acara hajatan keluarga yang biasanya dilaksanakan oleh masyarakat Madura dalam melaksanakan hajat tertentu seperti hajat pernikahan, selamatan keluarga, dan bahkan arisan. Tradisi ini sangat lekat dengan masyarakat Madura mulai dari dulu hingga saat ini.

    Selain dari kekayaan tradisi dan budaya, Madura juga sangat kaya akan hasil alamnya seperti padi, tembakau, garam, dan ikan. Dengan banyaknya sumber daya alam yang kaya ini sepatutnya kita bangga seakligus melestarikan dan mengelola sumber daya alam yang ada sehingga keberadaannya akan terus berlangsung hingga kepada generasi anak cucu kita kelak.

    Namun, dibalik kekayaan yang ada, ada salah satu jiwa Madura yang hilang yaitu sastra. Saat ini, kesusastraan Madura bisa dibilang sudah mati dikarenakan generasi mudanya lebih mempelajari sastra Indonesia ketimbang sastra Madura. Padahal, cirri utama orang Madura pada jaman dulu adalah penguasaan terhadap kesusastraan Madura yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh yaitu bhȃngsalan. Bhȃngsalan adalah sejenis karya sastra yang berupa ungkapan tak langsung kepada maksudnya, sebagai contoh ketika sedang menerima tamu dan si tuan rumah menyuguhi hidangan. Si tuan rumah tidak langsung mempersilahkan sang tamu untuk menikmati hidangan itu dengan bahasa yang lugas, tetapi menggunakan kalimat bhȃngsalan sebagai ungkapannya. Mereka akan mengucapkan èyatorè pondhut dhȃ’ar bighi accem saghi-mangghina yang berarti silahkan dimakan seadanya, ini menunjukkan bahwa orang Madura tidak hanya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap saudaranya (tamu) akan tetapi mereka juga sangat kreatif dalam kehidupannya salah satunya sastra.

    Di era modern ini banyak pemuda pemudi yang tidak tahu tentang sastra Madura, mereka lebih menikmati suguhan sastra Indonesia atau bahkan dari luar dikarenakan peradaban yang semakin maju dan ketertinggalan sastra Madura dari sorotan publik. Faktor ini juga dipengaruhi oleh para sesepuh atau para orang tua yang tidak memperkenalkan sastra kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, kita sebagai para pemuda dan pemudi Madura haruslah membangkitkan kembali sastra Madura yang lama telah mati untuk kembali bangkit dan dikenal luas khusunya masyarakat Madura sendiri umumnya masyarakat Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Usul Ds. Manonggal Kec. Klampis Kab. Bangkalan